Ustadz: memangnya antum yakin dia mau sama antum?
Ikhwan A: ana cukup yakin ustadz, dia sering tanya-tanya permasalahan
agama ke ana. Awalnya ana menjawabnya dengan memberi buku dan menitipkan
lewat temannya. Tapi karena dia terlalu sering bertanya, ana jawab
langsung aja SMS-nya. Trus dia sering minta nasehat dan lama-lama dia
sering curhat ke ana. Ana heran kenapa kok ana terus yang dia hubungi.
Nah dari sini ana mengambil kesimpulan bahwa ia sejatinya sedang
menunggu ana ustadz.
Ustadz: terus, antum sekarang mau “maju” sama dia?
Ikhwan A: nah itu dia ustadz permasalahannya, rencana ana, ana pengen
“maju” sama dia, memang kita berbeda manhaj dan ana yakin dengan manhaj
ana yang sekarang, akhwat itu memang perlu didakwahi karena manhajnya
kurang tepat. Rencana ana akhwat itu, “dibini” dulu baru dibina ustadz.
Nanti ana yang ngajak dia “ngaji” dakwah manhaj salafiyah.
Ustadz: afwan, ana ingin menasehati antum. Ana lihat antum masih kurang
“ngaji”-nya. Antum ana lihat belum kokoh ilmunya. Ana sarankan antum
mencari akhwat yang sudah “ngaji” saja. Supaya antum tidak capek
mendidik lagi, belum lagi kesibukan sebagai kepala rumah tangga nanti.
Rencana antum “dibini” dulu baru dibina, bisa-bisa jadi “dibini”
kemudian dibina-sakan. Atau antum yang dibina-sakan. Malah antum yang
terbawa manhaj akhwat tersebut. Antum cari akhwat yang sudah “ngaji”
saja. Barakallahu fikum
Fulanah: yaa ukhti, tolong ruqyah ana,
banyak jin dan setan cinta dalam tubuh ana. Yaa ukhti apa anti tahu
amalan atau doa yang bisa menghapuskan ingatan dan memori?
Akhwat A: kenapa ukhti, anti kok grasak-grusuk gelisah sekali?
Fulanah: entah dari mana ana harus memulai kisah ini, ana juga tidak
habis pikir, kenapa dan kenapa bayangan wajah laki-laki itu selalu
menari-nari di pelataran alam khayal ana. Mengapa namanya yang selalu
tereja di lisan dan pikiran ana. Bagaimana bisa pikiran ini bergerumuh
setiap kali melihat hadiah-hadiah pemberian yang ia beri. Dan kenapa
dunia ini serasa gersang jika tidak ada siraman kabar dari dia. Dan
dimanakah keimanan ini? ana akui ya ukhti, ana jatuh cinta dengannya.
Salahkah seorang wanita yang sangat haus kasih sayang dan manja ini
jatuh cinta?
Akhwat A: aduh, anti apa-apaan sih, curhat aja pakai
bahasa puitis kayak gini, keseringan buat puisi ya? Atau sudah terlalu
penuh “beban” di dada ukhti? Sekarang jelaskan, jatuh cinta sama ikhwan?
Ya tinggal bilang aja, tantang dia jika emang jantan, atau anti
tawarkan diri anti aja.
Fulanah: nah, itu dia ukhti, ini
laki-laki bukan sembarang laki-laki, dia pemain band terkenal. Sering
manggung di kampus-kampus. Orang so pasti keren, ganteng pula, jadi
idola cewek-cewek di kampus. Dia itu sibuk-sibuk manggung tapi asisten
dosen lho.
Akhwat A: astaghfirullah ukhti, anti kok kagum sama yang seperti itu, gimana kok bisa jatuh cinta kesem-sem sama dia?
Fulanah: kami dulunya satu kelompok praktikum. Awalnya ana bisa menjaga
diri dari para laki-laki. Tapi yang satu ini sepertinya terus-terus
berusaha mendekati ana. Dia sering sms, kasih hadiah, malah dia katanya
mau main-main ke rumah ana. Jelas ana tolak mentah-mentah. Tapi lama
kelamaan, kata-kata manis dan pengorbanannya membuat hati ana meleleh.
Sekuat-kuat iman wanita, hati ana lemah, akhirnya luluh juga. Ana tidak
kuasa menolak sms pertanyaan tentang agama ke ana, ana juga tidak kuasa
menolak hadiah yang setiap satu minggu sekali dikirim ke rumah ana via
pos. Dia bilang, ana satu-satunya tempat jangkar, agar perahunya menepi.
Dia bilang juga ana berbeda dengan wanita-wanita lain, yang gampang dia
dapatkan. Dia sangat penasaran dengan ana. Kok baru kali ini ada wanita
yang sukar sekali luluh dengan dia. Dia bilang, ana wanita yang
spesial. Dia juga mengikrarkan bahwa, akan menempuh segala cara agar ana
memberikan tangan sebelah lagi sehingga cinta bisa bertepuk. Ana sadar
ini racun , tetapi kenapa ana masih ingin mengisapnya sampai habis ya?
Ana sadar dia kurang baik buat akhirat ana, tetapi kenapa hati ini
selalu bertumpu padanya?
Akhwat A: wah, susah juga kasus anti,
masalah hati masalah yang berat, kita tanya ustadzah aja. Anti juga
sudah kalang-kabut kayak gini, pake minta ruqyah segala lagi, padahal
anti sudah tahu tidak dianjurkan dalam agama.
Panah cinta melesat sebelum busurnya ditarik
Demikianlah cinta asmara, dia kebanyakan berbuah sebelum waktu
panennya. Dia bukan mendahului takdirnya, akan tetapi lingkungan dan
perubahan zamanlah yang membuat seperti ini. Mudahnya laki-laki dan
wanita bercampu-baur. Gampangnya mereka bertemu dan bertatap muka.
Sehingga tabiat dan jiwa manusia yang butuh akan perhatian lawan jenis
dan hakikat manusia yang mudah tertarik dengan lawan jenis, ditambah
lagi hati manusia yang lemah akan cinta. Ini semua membuat panah cinta
melesat sebelum busurnya ditarik.
Okelah, jika sudah tiba
saatnya, maka tidak mengapa. Bisa segera ia halalkan. Akan tetapi
terkadang waktu halalnya tidak sepanjang galah. Ia masih panjang,
sepanjang hulu yang ingin mencapai hilirnya. Jangan salahkan syariat
yang seolah-olah mengurung hati yang sudah jatuh cinta itu dalam periuk
yang tertelungkup dan kemudian terkekang terbelenggu. Akan tetapi
salahkanlah manusianya yang memang sudah jauh dari ajaran Islam dan
hampir mendekati kiamat. Syariat sudah mengultimatum agar laki-laki
tidak sebegitu mudah bersua dengan wanita, dan begitu juga wanita agar
tidak bermudah-mudah berinteraksi dengan laki-laki dalam hal yang tidak
perlu.
Inilah akibatnya jika manusia kebanyakan tidak peduli,
panah cinta asmara melesat dan menghujam di hati manusia. Bagi yang
tidak mengindahkan seruan syariat, maka ia berbahagia sejadi-jadinya.
Sangat menikmati panah cinta yang menembus dadanya. Padahal panah itu
sejatinya menimbulkan luka, ia sadar benar merasakan perihnya, perihnya
rindu jika tidak tersalurkan. Akan tetapi racun khamer asmara di ujung
panah membuatnya mabuk dan tidak sadar bahwa ia sedang kecanduan dan
tinggal menunggu overdosis sehingga berakhirlah petualangannya dalam
bungkusan syirik cinta yang memenjarakan dan membalut erat hati kecil
keimanannya.
Bagi yang peduli terhadap agama yang mulia ini. Maka
panah cinta ini adalah siksaan, dia tahu bahwa ini adalah luka yang
segera harus disembuhkan. Akan tetapi tidak mudah mencabut panah cinta
seperti ini, karena panah cinta kebanyakan mempunyai kait-kait di
ujungnya. Jika ditarik paksa maka akan merobek dan mengoyak daging
sehingga luka semakin besar dan parah. Akan tetapi jika dibiarkan, maka
racun khamer asmara akan segera menyebar dan menjalar melalui darah dan
kemudian bersemayam kuat di otak pikiran, karena racun itu tahu otak
adalah raja kerajaan tubuhnya. Apalagi dibantu oleh setan yang berjalan
dalam aliran darah manusia. Rasulullah shallahu alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّم
“Sesungguhnya setan berjalan/mengalir dalam tubuh manusia melalui
peredaran darah“.[HR. Al Bukhari no. 6219 dan Muslim no. 2175]
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hasits ini,
قال القاضي وغيره قيل هو على ظاهره وأن الله تعالى جعل له قوة
وقدرة على الجري في باطن الإنسان مجاري دمه وقيل هو على الاستعارة
لكثرة اغوائه ووسوسته فكانه لايفارق الانسان كما لايفارقه دمه
وقيل يلقي وسوسته في مسام لطيفة من البدن فتصل الوسوسة إلى القلب والله أعلم
“Al-Qhodi dan yang lain berkata, “ dikatakan [pendapat terkuat] bahwa
Allah menjadikan baginya [setan] kekuatan dan kemampuan untuk
berjalan/mengalir dalam batin manusia melalui peredaran darah. Dan
dikatakan juga [pendapat lain] bahwa ini adalah metafora/perumpamaan
karena seringnya menyesatkan dan memberikan was-was. Sehingga ia tidak
berpisah dengan manusia sebagaimana darah tidak berpisah dengannya. Dan
dikatakan [pendapat lain] bahwa setan memberikan was-was melalui
pori-pori kulit yang halus di badan kemudian menuju ke hati. Wallahu
a’lam”.” [Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj 14/157,Dar Ihya’ut
Turots, Beirut, cet. Ke-2, 1392 H, Asy-Syamilah]
-Tentukan jalan jika jatuh cinta, antara 2-H: Halal (yang sah) atau Hilang (dari pikiran)-
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel
www.muslimafiyah.com